Tulis Caption Bijak Soal 'Pelakor', Rina Nose Banjir Pujian Netter

Foto: Tulis Caption Bijak Soal 'Pelakor', Rina Nose Banjir Pujian Netter Instagram



Rina Nose membagikan pendapatnya mengenai permasalahan yang sedang marak diperbincangkan melalui Instagram pribadinya.

Kanal247.com - Maraknya pemberitaan “teman makan teman” yang beredar di media membuat Rina Nose membagikan pendapatnya. Ia menuliskan caption panjang dalam salah satu unggahannya di Instagram pribadinya pada Kamis (7/3).

Caption itu dibuka dengan Rina menuliskan beberapa istilah yang suka disebutkan oleh netter. Istilah-istilah tersebut memiliki makna yang sama satu sama lain. Semua sebutan tersebut mengacu pada perusak hubungan asmara seseorang.

Akhir-akhir ini lagi ngetrend yang namanya pelakor, pebinor, temen makan temen, tikung menikung, atau istilah lainnya,” jelas Rina. “Muncul sebagai ide kreatifitas penyematan gelar bagi orang-orang yang dianggap berselingkuh atau merebut pasangan orang.

Rina mengungkapkan bahwa karena istilah-istilah tersebut, netter menjadi menyamaratakan setiap hubungan selebriti. Ia mengungkapkan bahwa netter mulai melarang para selebriti berhenti mengunggah foto bersama pasangannya. Bahkan meminta sang selebriti untuk melakukan hal yang sama dengan selebriti yang lainnya.

Sejak ngetrend istilah-istilah itu, mendadak banyak orang yang menyamaratakan hubungan asmara setiap pasangan dan juga hubungan pertemanan.” terangnya. “Dan mulai melarang selebriti memposting foto kebersamaan dengan pasangan. Atau meminta selebriti bersikap seperti selebriti lain yang mereka sukai.”

Lihat postingan ini di Instagram

Akhir-akhir ini lagi ngetrend yang namanya pelakor, pebinor, temen makan temen, tikung menikung, atau istilah lainnya yang muncul sebagai ide kreatifitas penyematan gelar bagi orang-orang yang dianggap berselingkuh atau merebut pasangan orang. Entah siapa yang pertama kali mempopulerkan istilah-istilah itu, tapi sejak ngetrend istilah-istilah itu, mendadak banyak orang yang menyamaratakan hubungan asmara setiap pasangan dan juga hubungan pertemanan. Dan mulai melarang selebriti memposting foto kebersamaan dengan pasangan. Atau meminta selebriti bersikap seperti selebriti lain yang mereka sukai. Kawan, apa kita lupa atau tidak menyadari bahwa perselingkuhan dan kegagalan hubungan asmara itu sudah terjadi sejak berabad-abad silam? Kisah asmara setiap orang saja sudah berbeda jauh sebelum adanya sosial media. Jadi, ada atau tidak adanya sosial media, perselingkuhan dan kegagalan hubungan asmara bisa terjadi pada siapapun, kapanpun dalam peristiwa apapun. Bahkan penjelasan ilmiah tentang hal ini sudah lama diungkap di berbagai media dan berbagai negara oleh para peneliti dan ahlinya. (Cari sendiri sumbernya di google) apa saja faktor penyebab perselingkuhan? Siapa saja yang mungkin melakukan nya? Berapa persentase nya? Bagaimana cara menanganinya? Seandainya kita sudi meluangkan waktu sedikit saja untuk mempelajari tentang berbagai karakter manusia. Apa saja yang mempengaruhi pola pikir seseorang serta tindakannya? Mungkin hal itu bisa mengurangi kebiasaan “menghakimi” dan “menyamaratakan” karakter setiap orang, serta mulai menyelesaikan permasalahan dengan sikap-sikap yang bisa dipertanggungjawabkan oleh masing-masing individu. Mungkin juga video-video viral tentang kekerasan psikis, mempermalukan seseorang di depan umum kemudian menyebarkannya, penganiayaan fisik, opini-opini negatif yang cenderung kasar dan tidak manusiawi terhadap orang yang dianggap “merebut pasangan orang”, atau dianggap tidak sesuai dengan yang mereka inginkan, itu tidak akan menjadi kebiasaan yang dianggap lumrah.

Sebuah kiriman dibagikan oleh Rina Nose (@rinanose16) pada

Tunangan pria keturunan Belanda ini juga menjelaskan bahwa perselingkuhan sudah marak terjadi sebelum adanya sosial media. “Ada atau tidak adanya sosial media, perselingkuhan dan kegagalan hubungan asmara bisa terjadi pada siapapun, kapanpun dalam peristiwa apapun,” pungkasnya.

Wanita berusia 35 tahun ini berniat mengajak netter untuk sudi meluangkan waktu mempelajari karakter manusia. Ia berharap dengan mengenal pola pikir seseorang maka sikap menghakimi dan menyamaratakan akan berkurang. Dengan begitu setiap permasalahan akan dapat diselesaikan dengan penuh tanggung jawab.

Seandainya kita sudi meluangkan waktu sedikit saja untuk mempelajari tentang berbagai karakter manusia. Apa saja yang mempengaruhi pola pikir seseorang serta tindakannya?” ucap Rina. “Mungkin hal itu bisa mengurangi kebiasaan ‘menghakimi’ dan ‘menyamaratakan’ …. menyelesaikan permasalahan dengan sikap-sikap yang bisa dipertanggungjawabkan.

Pendapat panjang Rina Nose tersebut sontak mendapatkan banyak pujian. Banyak netter mengaku setuju dengan tulisan Rina. “Sangat Berfaedah teh,” tulis salah satu netter. “Superr mbk @rinanose16 # setujuuu,” tambah netter. "Kak @rinanose16 kerennn tulisannya,, saya suka saya suka kerennn,, mungkin bisa Kak jadi psikolog untuk kawan2 yang mungkin sedang menghadapi masalah tersebut (emoji cium) sukses terus Kak Rinnn." pungkas netter yang lain.

Komentar Anda

Rekomendasi Artikel