Pemerintah Korea Utara Sebut K-Pop Seperti 'Kanker Ganas'

Foto: Pemerintah Korea Utara Sebut K-Pop Seperti 'Kanker Ganas' PEXELS



Pemerintah Korea Utara mengungkapkan jika industri K-Pop seperti 'kanker ganas' karena selama ini kebijakannya melarang konten-konten dari negara Korea Selatan tersebut masuk ke negaranya.

Kanal247.com - Kecemasan seorang pemimpin negara terhadap generasi muda tentu memiliki perhatian yang besar karena dari generasi tersebut kemajuan negara akan dilanjutkan. Seperti halnya yang hendak dilakukan oleh pemimpin dari Korea Utara Kim Jong Un yang menjuluki K-Pop sebagai kanker ganas.

Diketahui jika sebuah media Korea Utara menyatakan bahwa K-Pop merusak dan menodai pakaian, gaya rambut, pidaot dan perilaku anak muda Korea Utara. Jika dibiarkan, itu akan membuat Korea Utara runtuh seperti dinding yang lembab.

Selam bertahun-tahun berpisah, budaya pop dari Korea Selatan sering diselundupkan melintasi perbatasan Korea Utara karena banyak masyarakatnya yang juga menyaksikan drama dan musik dari Korea Selatan secara ilegal. Hal ini dikarenakan budaya pop Korea Selatan semakin berkembang yang jauh lebih besar di Korea Utara.

Kim Jong Un sebagai pemimpin negara tersebut telah memerintahkan tindakan tegas untuk mengendalikan pengaruh budaya yang dengan cepat menyebar ke negaranya. Pihak Korea Utara sendiri telah melarang dan menyensor konten yang dapat diakses oleh orang-orang di negara itu. Namun, itu tidak menghentikan masyarakatnya untuk mendapatkan konten secara ilegal.

Seorang pembelot, Jung Gwang Il yang menjalankan jaringan menyelundupkan K-Pop ke Korea Utara mengungkapkan jika pemuda negara itu tidak berutang apa pun kepada Kim Jong Un. Oleh karena itu, generasi muda tampaknya lebih banyak dipengaruhi oleh globalisasi K-Pop. Selain itu, kemajuan teknologi untuk melakukan impor dan penyelundupan konten secara ilegal menjadi jauh lebih mudah bahkan di Korea Utara.

Jiro Ishimaru, pemimpin redaksi Asia Press International, sebuah situs web di Jepang yang memantau Korea Utara menyatakan jika pengaruh Korea Selatan telah melampaui tingkat yang dapat ditoleransi. "Bagi Kim Jong Un, invasi budaya dari Korea Selatan telah melampaui tingkat yang dapat ditoleransi. Jika ini dibiarkan, dia khawatir rakyatnya mungkin mulai mempertimbangkan Korea Selatan sebagai alternatif Korea untuk menggantikan Korea Utara," ungkap Jiro Ishimaru.

Dengan banyaknya masyarakat Korea Utara yang terpengaruh budaya K-Pop membuat adanya perubahan pada cara penyebutan kata. Menurut laporan dari The New York Times, ada beberapa wanita Korea Utara yang memanggil pasangannya dengan sebutan "Oppa" yang biasanya mereka sebut "comrade". Panggilan tersebut disebut sesat oleh Kim Jong Un.

Sementara itu, pemerintah Korea Utara mengawasi masyarakatnya dengan ketat termasuk pemantauan komputer, pesan teks, musik dan buku catatan. Apabila ada yang ketahuan menggunakan bahasa Korea Selatan maka individu tersebut akan diusir dari kota dan orang yang menyelundupkan konten akan dihukum di tempat kamp konsentrasi.

Komentar Anda

Tags

Rekomendasi Artikel